Inilah 3 Sejarah Qurban yang Wajib Anda Tahu

Sejarah Qurban

Qurban identik dengan peringatan Hari Raya Idul Adha dalam kalender Islam. Jumhur ulama’ bersepakat bahwa hukum qurban adalah sunnah muakkad. Sunnah muakkad tidak sama dengan wajib, tapi hampir mendekati. Tahukah Anda, bahwa sejarah qurban itu ada pada 3 zaman yang berbeda? Untuk selengkapnya, mari kita urai satu per satu.

  1. Zaman Nabi Adam a.s

Pernah dengar nama Qabil dan Habil? Dua makhluk Allah ini lahir berpasangan, namun beda watak. Meskipun berpasangan, tetapi Qobil agak lebih dulu keluar dari rahim Ibu Hawa. Keduanya menempuh hidup dengan jalan yang berbeda. Meskipun dua orangtuanya bersifat sama, anak-anak itu tidak mengikuti jejak orangtuanya.

Terutama ketika lahir sepasang bayi perempuan bernama Iqlima dan Labuda. Qabil yang berprofesi sebagai petani iri ketika Habil dijodohkan pada Iqlima yang cantik jelita. Sifat buruk itu tidak hanya muncul dalam hal asmara, tetapi juga dalam hal kurban sesuai yang ditentukan oleh Allah.

Tibalah pada hari kurban itu. Ketentuannya adalah Qabil dan Habil mempersembahkan harta terbaiknya dan diletakkan di atas bukit. Siapa kurban yang dimakan hewan-hewan, kurbannya diterima. Saat itu Qabil yang aslinya punya banyak sifat buruk hanya mengorbankan hasil pertanian berkualitas jelek. Sedangkan Habil, dia mengorbankan daging hewan yang sehat, gemuk, dan yang paling ia sayangi.

Hasilnya pun kelihatan. Binatang-binatang setempat lebih menyukai kurban dari Habil. Mereka sama sekali tidak respek dengan hasil kurban milik Qabil. Begitulah kisahnya. Siapa yang menanam, pasti dia akan memanen sesuai dengan apa yang ditanamnya.

  1. Zaman Ibrahim a.s

Kisah penyembelihan yang dilakukan Nabi Ibrahim a.s terhadap Nabi Isma’il sudah banyak diriwayatkan. Terutama di mimbar-mimbar ketika salat Ied berlangsung. Perintah penyembelihan itu didapat oleh Nabi Ibrahim lewat mimpi. Mimpi langsung dari Allah bersifat mutlak. Hanya seorang nabi terpilih yang bisa diberi mimpi langsung dari Allah.

Untuk itulah, ketika detik-detik penyembelihan Nabi Is’mail a.s, syetan tidak tinggal diam. Dia membisikkan dari depan, belakang, kanan, kiri, atas, bawah, bahkan berusaha menyusup ke celah-celah terkecil Nabi Ibrahim a.s agar membatalkan niatnya itu.

Malang buat para syetan itu. Nabi Isma’il bukan anak biasa. Dia mewarisi sikap dan sifat ayahnya. Ketika peristiwa itu berlangsung, dia masik kecil, tepatnya umur 13 tahun. Tetapi soal keshalihannya tak perlu diragukan lagi. Dialah yang menguatkan niat Nabi Ibrahim a.s ketika ayahnya mulai ragu dengan perintah langsung dari Allah.

Di sinilah pentingnya menyikapi segala sesuatu dengan penuh kesadaran diri. Kita bukan apa-apa dibandingkan Allah Sang Penguasa Semesta. Bahkan jika diibaratkan, ilmu kita tentang dunia dan semesta tidak ada setetes kecil dari samudera yang begitu luas. Menerima dan menaati setiap perintahnya merupakan kewajiban kita sebagai umat manusia.

  1. Zaman Rasulullah SAW

Kurban pada zaman Rasulullah SAW ya zaman kita ini. Kurban yang paling menyentuh adalah ketika pada hari Rasulullah menjalani Haji Wada atau Haji Terakhir beliau. Saat itu, setelah salat Ied di Mina, beliau menyembelih 100 ekor unta dengan rincian, 70 disembelih dengan tangan sendiri, sementara sisanya disembelih oleh Ali bin Abi Thalib r.a.

Haji Wada’ adalah momen yang paling menyentuh. Sebab, saat itu Rasulullah SAW secara tidak langsung mengucapkan perpisahan di dunia pada umat muslim di mana pun berada. Manusia paling mulia ini berwasiat pada kita, bahwa sampai kapan pun hiduplah dengan memegang Alqur’an dan As-Sunnah.

Saat itu keadaan Makkah atau Baitullah telah bersih dari syirik dan perbuatan kaum jahiliyah. Ribuan orang memadati lokasi ketika Rasulullah SAW menyampaikan pesan demi pesan dengan suara yang menentramkan. Bahkan, ketika saat itu belum ada pengeras suara, suara beliau bisa terdengar dari jarak yang sangat jauh di belakang. Inilah salah satu keutamaan beliau.

Dengan mengetahui sejarah qurban, tentunya akan menambah bank ilmu untuk kita. Rupanya tradisi qurban telah dijalankan oleh para nabi sebelum Rasulullah SAW. Hal ini menandakan pentingnya qurban itu sendiri sebagai wujud kesetiaan kita terhadap Allah SAW. Tradisi dan perintah langsung dari Allah ini sebaiknya kita jaga sebaik-baiknya agar bisa meningkatkan standar kualitas iman yang ada dalam diri.