Siak Sri Indrapura, Melawan Penjajahan dengan Pendidikan

Siak Sri Indrapura, Melawan Penjajahan dengan Pendidikan

Kerajaan Siak Sri Indrapura adalah salah kerjaan di nusantara yang di pimpin oleh seorang sultan yang begitu murah hati dan besar rasa cintanya kepada rakyat yang ia pimpin. Di luar itu, hal yang paling membuatnya namanya dikenang lebih di antara sultan dan raja lain adalah kemurahan hatinya.

Mengenal Lebih Dekat dengan Siak Sri Indrapura

Ketika Republik Indonesia dibentuk dan merdeka, Sultan yang begitu dicintai oleh rakyatnya ini tidak segan – segan menyerahkan segala kekayaan yang ia miliki beserta kerajaannya kepada NKRI. Mahkota dan seluruh harta kekayaan yang ia miliki ia serahkan kepada Ir. Soekarno.

Kala itu, ia menyerahkan uang sebesar 13 jua gulden atau setara dengan 69 juta euro atau lebih dari 1 triliun rupiah kepada Indonesia secara cuma cuma sebagai bentuk kecintaan beliau kepada negara. Hal ini juga sebagai wujud ketegasan bahwa kesultanan yang ia pimpin melebur satu menjadi NKRI.

Sultan yang dikenal sebagai Sultan Syarif Kasim II ini memang ditakdirkan tidak memiliki keturunan. Sebagai seorang sultan yang cerdas, rapi, dan cinta kepada rakyatnya ini lahir pada tanggal 1 Desember 1893. Ia adalah seorang sultan yang tidak segan – segan melawan penjajah.

Akan tetapi, berbeda dengan cara sultan – sultan lain di wilayah nusantara, langkah atau cara – cara perlawanan yang dilakukan oleh sang sultan ini dilakukan dengan cara yang cerdas dan elegan. Di bawah 12 wilayah Kesultanan Siak Sri Indrapura yang ia pimpin, ia bergerak secara cerdik tapi elegan.

Melawan Penjajah lewat Pendidikan dan Dukungan kepada Pejuang Rakyat

Kerajaan yang ia pimpin pada tanggal 3 Maret 1915 ini tidak sepenuhnya takhluk dengan kolonial bangsa meski ketika itu masih ada perjanjian yang dikenal sebagai Traktat Siak yang diteken oleh buyut sang sultan, Sultan Said Ismail di masa penjajahan Inggris.

Cara cerdas yang ia lakukan adalah dengan memaksimalkan rakyatnya agar tidak tertinggal oleh zaman yang selaras dengan pergerakan nasional di masa itu. Sebagai sosok yang modern, ia telah belajar tentang ilmu hukum agama dan pemerintahan di Batavia (1904).

Siak Sri Indrapura ini bahkan menjadi salah seorang murid dari Profesor Snouck Hurgronje yang dikenal sebagai orientalis dan penasihat pemerintah kolonial Belanda. Salah satu bentuk upaya yang ia lakukan adalah dengan memajukan pembangunan daerah dan kualitas sumber daya manusia.

Lewat pendidikan, Sultan Riau ini menapak langkah melawan penjajahan Belanda. Ia mendirikan sekolah dasar yang dapat mengimbangi HIS atau Hollandsche Inlandsche School yang hanya bisa dimasuki oleh orang – orang dari kalangan tertentu.

Sekolah yang ia dirikan adalah sekolah pertama yang ada di Riau. Kurikulum yang dijalankan meliputi agama, nasionalisme, dan ilmu – ilmu pengetahuan umum. Sekolah yang kemudian dinamakan dengan Madrasah Taufiqiyah al Hasyimiah ini berdiri pada tahun 1917.

Tidak hanya itu saja, sekolah khusus putri pun juga didirikan lewat permaisuri Sultan bernama Sarifah Latifah yang dilanjutkan oleh Tengku Maharatu sebagai permaisuri kedua. Sekolah yang dinamakan Latifah School ini juga menjadi awal berdirinya sekolah pendidikan lain di Riau.

Tidak hanya sekolah khusus perempuan, Masrasyahtul Nisak dan taman kanak – kanak juga didirikan mengikuti semangat memperluas pendidikan di daerah Riau. Sejarah Siak Sri Indrapura dalam mewujudkan NKRI dan melawan penjajah adalah dukungan yang diberikan kepada Si Koyan.

Lebih jauh, sang Sultan juga memberikan dukungan berupa fasilitas – fasilitas kemiliteran kepada para pemuda. Hal ini pun masih dilakukan bahkan ketika masa pemerintah Belanda sudah dipukul mundur oleh Jepang dan berganti menjadi pemerintahan pendudukan Jepang.

Bentuk dukungan lain yang ia lakukan adalah memprakarsai adanya TKR atau Tentara Keamanan Rakyat dan Barisan Pemuda Republik di wilayah yang ia pimpin, Riau. Ia juga turut serta mengikuti rapat dan mengucapkan ikrar setia kepada RI di masa – masa menjelang kemerdekaan.

Demi NKRI, ia tanpa pamrih memberikan seluruh harta kekayaan dan memberikan pernyataan lewat kawat kepada Presiden pertama RI, Soekarno bahwa kesultanan dibawah yang ia pimpin berdiri teguh di belakang Republik Indonesia. Demikianlah, sekelumit sejarah tentang Siak Sri Indrapura.